Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama bagi setiap individu, sehingga keluarga merupakan agen sosialisasi yang pertama dan utama pula. Sejak dilahirkan, sorang bayi sudah berhubungan dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudara dekatnya yang lain. Seorang anak akan mengenal lingkungan sosial budayanya serta pola pergaulan hidup sehari-hari melalui keluarga. Di dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah kedua orang tuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua (jika ada), serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan itulah anak mengalami proses sosialisasi awal. Orang tua, saudara, maupun kerabat dekat lazimnya mencurahkan perhatian untuk mendidik anak supaya anak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan yang benar dan baik, melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasinya.
Kehidupan ekonomi keluarga di Indonesia saat ini, sedikit banyaknya menuntut ayah dan ibu bekerja. Kerjasama ayah dan ibu dalam menghidupi keluarga menjadi sebuah tantangan tersendiri, mengingat ayah dan ibu sebenarnya memiliki porsinya masing-masing dalam membagi tugas untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan untuk anak mereka, padahal mereka tidak luput dari masalah perkembangan dan pembentukan karakter pada anak. Seiring dengan perkembangan zaman, semakin meningkatnya kebutuhan ekonomi semakin keras juga untuk bekerja, begitulah yang dirasakan oleh sebuah keluarga, bahkan keluarga kehilangan waktunya untuk sekedar bertegur sapa. Anak yang seharunya mendapatkan perhatian lebih tetapi mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan sendiri atau dengan teman-temannya, anak tidak menginginkan hal seperti itu, mereka juga butuh perhatian.
Melalui adanya pertemuan antara ibu dan anak yang berkualitas atau yang biasa disebut dengan quality time, berbagai sikap positif akan mudah ditiru oleh anak remaja, dan ketika sikap negatif orang tua ditiru, orang tua dapat segera menngoreksi sikap tersebut. Quality time ibu dan anak adalah frekuensi pertemuan antara ibu dan anak untuk melakukan kegiatan yang berkualitas bersama-sama, seperti membaca, bermain, belajar, berkebun, memasak dan makan malam. Quality time ibu dan anak adalah waktu yang mencakup semua aktivitas dimana anak-anak memberikan fokus secara primer terhadap semua kegiatan dan bertanggung jawab atas kegiatan yang dilakukan.
Bentuk-Bentuk Quality Time
Quality time juga merupakan serangkaian kegiatan dari yang sangat terencana dan kegiatan dalam jangka waktu panjang hingga kegiatan ritual dan rutin dalam menggunakan waktu untuk berbagi sesuatu dengan orang lain khususnya keluarga. Bagian yang paling esensial dalam quality time adalah kebersamaan atau aktivitas yang dilakukan bersama-sama, interaksi satu sama lain, dan juga komunikasi.
Memasak Dan makan Bersama
Banyak hal yang dilakukan keluarga dalam mengisi akhir minggu dengan keluarga, kegiatan di rumah untuk quality time bersama pun cukup banyak. Selain saling berinteraksi, ternyata memasak juga dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak, dengan memasak, orang tua dapat mengetahui selera dan makanan kegemaran anak, begitu pula sebaliknya. Memasak juga menanamkan sifat gotong royong pada anak.
Berlibur Besama
Meluangkan waktu dengan cara mengambil waktu kosong atau mengambil cuti tidak hanya diperlukan oleh pegawai saja atau yang bekerja dikantoran, namun petani atau pekerja lainnya juga bisa mengambil itu untuk meluangkan waktu yang berkualitas dengan keluarga. Berlibur besama menjadi waktu yang paling berkualitas bagi anak, tidak hanya bagi anak saja, karena rutinitas yang dilakukan orang tua tanpa disadari membangkitkan stres, namun dengan berlibur akan membuat stres cenderung menurun. Berlibur tidak dipengaruhi jauh dan dekatnya bepergian, namun hal ini berhubungan dengan kuantiti waktu yang diperoleh.
Belajar Bersama
Peran orang tua dalam mengisi waktu berkualitas dengan anak dapat ditunjukkan melalui belajar bersama dengan anak, walaupun terkadang ada orang tua yang tidak mengerti namun setidaknya ada tempat anak untuk bertanya kepada orang tuanya.
Mendekorasi Rumah Besama
Banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama antara orang tua dengan anak, walaupun hanya dirumah dengan membersihkan rumah dan memasak, namun hal itu akan membuat kedekatan orang tua dengan anak lebih baik melalui interaksi. Membersihkan rumah mungkin terdengar sebagi kegiatan yang tidak menyenangkan, tetapi jika melakukannya bersama-sama sebagai satu keluarga, hal ini bisa menjadi menyenangkan. Setelah selesai melakukannya, keluarga akan merasa puas melihat karena telah melakukan sesuatu yang produktif dan juga menghabiskan waktu bersama keluarga.
Bergurau Dan Bercengkerama
Meski sibuk dengan aktifitas setiap hari, tetap usahakan untuk meluangkan waktu berbincang-bincang bersama anggota keluarga yang lain agar hubungan satu sama lain bisa lebih harmonis. Karena walaupun kira berada di satu rumah bersama anggota keluarga yang lain, tidak jaminan hubungan dekat atau akrab satu sama lain, kalau komunikasi tidak terjalin dengan baik.
Interaksi
Dalam keluarga ada interaksi saling mempengaruhi, mengubah/memperbaiki antar keluarga ke arah positif . Interaksi orang tua dengan anak dapat berjalan dengan baik tentunya dengan interaksi yang baik dan ada respon dari anak.
Komunikasi
Dari kondisi orang tua yang belum mengetahui cara mengasuh anak dan menjalin kedekatan dengan anak, dapat dilakukan dengan komunikasi yang semakin sering dan berkualitas, tentunya dengan waktu yang telah terbagi dengan baik.
Keterbukaan
Dalam membagi waktu dengan anak melalui komunikasi deperlukannya keterbukaan antara orang tua dengan anak, selain itu mendengarkan kritik dari anak tidak menjadi permasalahan selagi anak dapat menyampaikan dengan baik untuk tejalinnya komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak.
Empati
Quality time juga berhubungan dengan empati antara orang tua dengan anak, orang tua mempunyai empati terhadap anak seperti memperhatikan apa saja kegiatan yang dilakukan oleh anak sehingga anak dapat merasakan kedekatan dengan orang tuanya, walaupun orang tua sibuk bekerja dan tidak mempunyai waktu pada siang hari dalam mengontrol langsung anaknya namun sejauh ini orang tua selalu berusaha untuk mengetahui apa saja kegiatan yang dilakukan anaknya.
Suportif
Sikap suportif merupakan lawan dari sikap defensif, yaitu sikap yang muncul ketika individu tidak dapat menerima, tidak jujur, dan tidak empatik dengan lawan bicara. Sikap defensif mengakibatkan komunikasi interpesonal menjadi tidak efektif, karena mereka merasa berada dalam suatu keadaan yang mengancam, atau tidak nyaman, sehingga tidak mungkin muncul perilaku suportif dalam komunikasi mereka.
Kestaraan
Waktu yang berkualitas akan lebih efektif bila suasana setara, dalam artian ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu berperan penting dalam sutu hubungan interpersonal.
Kesetaraan tidak mengharuskan setiap pihak menerima dan menyetujui begitu semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Dalam hubungan orang tua dengan anak, kesetaraan bukan berarti bahwa posisi mereka sama, disana anak tetap wajib menghormati orang tua, tetapi orang tua bukan hanya menganggap anak sebagai penerima yang akan menyebabkan komunikasinya hanya berjalan satu arah, tetapi juga tetap menganggap bahwa anak tetap berperan, dan berhak untuk mengutarakan pendapat, sekaligus didengarkan pendapatnya.
Kesetaraan diperlukan dalam mengisi waktu yang berkualitas dengan anak, tidak hanya anak yang akan mendengarkan orang tua namun sebaliknya orang tua juga akan mendengarkan dan memberikan tanggung jawab dengan baik atas apa yang dicetitakan atau dibagikan kepada orang tua terhadap anak.
